Senin, 06 April 2009

SALAH SATU NYANYIAN ADAT YANG SERING DI BAWAKAN DALAM UPACARA PERKAWIANAN ADAT MASYARAKAT KEI

..He…He...Yo…E Kot El i…
Vel vat landir Dir
enuk eheng
Man ratav dav vin vit
Ma it is tanim it
He…He…vahe…
He…He…Yo…E Kot El i…Vel mortal roi nehangarngil
Nil na u ka hen
Vut la rat lar vav
It is ma tenim ilo…u vahu…

Artinya: Kot El dilukiskan sebagai pintu gerbangKultur budaya kepulauan Kei
Dimana seluruh burung-burung di udaraYang datang dari berbagai penjuruUntuk berteduh dan mencari makan, bersarang dan bertelurKot El di laut dilukiskan sebagai sebuah tempat yang ditumbuhi bunga karang yang berwarna-warni. Penuh dengan plankton, dapat menarik berbagai jenis ikan di laut. Untuk datang mencari makan, bersarang dan bertelur Putri cantik di atas bukit karena Elaar memiliki “davini vit” atau hutan tujuh lapis yang tidak dimiliki oleh desa lain, yang ada di seluruh kepulauan Kei. Elaar Lamagorang artinya identik dengan sebuah peristiwa yang sangat besar, yaitu penetapan Hukum Adat Larvul Ngabal di Siran Siryen (Siran Siryen artinya tempat berkumpul untuk musyawarah dalam rangka pencetusan hukum adat). Dengan demikian nama Elaar Lamagorang tercipta karena berhubungan dengan penyembelihan kerbau Siw (siw artinya tujuh), di mana berkumpul tujuh pimpinan adat untuk menetapkan hukum adat yang berlaku di tanah Kei, yakni Larvul Ngabal. Larvul berarti darah merah, Ngabal berarti Ngabang Balit atau pundak kiri, yang melambangkan suatu nilai adat yang sangat hakiki dan sangat sakral dalam suatu kehidupan masyarakat Kei. Dalam terjemahannya, bila ada kesalahan maka harus dituntut dengan suatu pembalasan/pertumpahan darah.
SEJARAH KEI

2.1 Latar Belakang Sejarah Kei Dalam literatur yang ada ditemukan beberapa nama yang dipergunakan untuk menunjukan kepulauan Kei, yakni yakni Evav, Kei, Quey, dan Muar. Pada masa sekarang ini hanya ada dua nama yang umum dipakai untuk menyebut baik pulau penduduk dan kebudayaannya.Dalam konteks nasional-formal, nama Kei selalu dipakai . sedangkan dalam konteks adat istiadat dan bahasa daerah setempat, nama Evav lebih banyak diberi peranan.2.1.1. EvavPenelitian etimologis belum bisa memastikan asal-muasal nama ini. Namun berdasarkan morfologi kata, muncul beberapa interpretasia. Ai Vaav = kayu babiPulau Kei dahulu kala banyak ditumbuhi pohon-pohon besar dan babi-babi liar di hutan. Karena itu pulau ini disebut ai-vaav, yang artinya pulau kayu babi. Bardasarkan tata bahasa Kei, pergeseran bentuk kata atau perubahan fonem ai vaav menjadi evav dapat diterangkan sebagi berikut : dalam lafalan bahasa Kei umumnya suku kata ai dan a dipakai secara tercampur, tanpa perubahan arti kata. Misalnya, ai vul (kayu merah) menjadi evul; ai lar (kayu darah) elar; ai bal (kayu dari bali) menjadi ebal; waid (tidak) menjadi wed; dan baing (payung) menjadi bengb. I Vav = berada di sebelah utaraKata vav di sini ditulis dan diucapkan dengan huruf vokal “a” pendek, dan berarti sebelah utara. H. Geurtjens mencatat bahwa nama Evav biasanya dihubungkan dengan kata bahasa Kei vav tersebut. Sehingga Evav berarti tanah utara (noorland) yang terletak di sebelah utara kepulauan tanimbar. Sejajar dengan data dari Geurtjens itu, terdapat pula cerita rakyat bahwa kaum pendatang yang menuju Kei berlayar menyusuri pantai selatan, Nusa Tenggara. Mereka memandang ke sebelah utara dan melihat pulau-pulau kecil dan menyebutnya sebagai pulau-pulau utara (I vav). Pergeseran bentuk I vav menjadi evav, mudah diterangkan. Dalam bahasa Kei baik vokal “i” maupun vokal “e” dipakai sebagai awalan penunjuk orang ketiga tunggal (dia). Misalnya, indir atau endir = dia berdiri, ivun atau evun = dia hamil, inba atau enba = dia pergi. Jadi boleh boleh dipastikan bahwa kata I vav (ivav) sama dengan evav.2.1.2. KeiH. Geurtjens mencatat bahwa nama Kei berasal dari kata bahasa Portugal kaios yang berari batu. . Data ini dihubungkan dengan adanya kekuasaan Portugis di maluku sejak tahun 1552. . Kaum penjajah itu datang untuk mencari rempah-rempah, namun agaknya mereka dikecewakan karena oleh kenyataan bahwa pulau kei hanya penuh dengan batu karang dan wadas. Mereka kemudian menamakannya “Pulau Batu”2.1.3. QueyDalam jurnal perjalan Jacobus Vertecht, tanggal 17 ferbuari 1646, yang mencatat sebagai berikut:“pada siang hari awan-awan sedikit terbuka di kaki langit, maka di sebelah depan muncul satu daratan di sebelah utara kami. Dan setangah jam kemudian kami melihat di sebelah lain satu tanah.pegunungan; kami mengira bahwa dataran yang rata itu adalah Quey kecil dan yang lain tinggi adalah Quey besar. Jaraknya kurang lebih 4 mil. 2. 1. 4. Muar atau MoarPada tahun 1331, kerajaan Majapahit mengadakan ekspansi kekuasaan di bawah pimpinan Gajah mada. Mula-mula Ia menaklukkan Bali. Kemudian Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi dan Maluku. Dalam sejarah Majapahit itulah tercatat bahwa pujangga Prapanca pada tahun 1364 pernah menggunakan nama Muar untuk menyebut untuk menyebut nama Kei.Nama Muar sebenarnya merupakan nama satu bukit di pulau Kur yang termasuk juga wilayah kepulauan Kei. Orang-orang yang berlayar dari arah barat menuju pulau Kei, dapat menjadikan Muar itu sebagai patokan menentukan letak pulau-pulau Kei. Selain beberapa nama-nama di atas yang diberikan untuk menyebutkan kepulauan Kei, wilayah ini juga memiliki sejarah tersendiri. Dari catatan sejarah, Tidak begitu banyak data-data yang dapat menjelaskan asal-usul penduduk Kei. Namun menurut Ph. Renyaan penduduk Kei diasal-usulkan dari pelbagai daerah di Indonesia, yakni dari: Sebelah barat: Jawa, Bali, dan Nusa TenggaraSebelah utara: Ternate, Tidore, dan JailoloSebelah tengah: Ambon, Seram, Banda, dan Watebula,Tanimbar, Aru, serta Irian Dari tradsi yang berkembang mengatakan bahwa sebelum orang-orang pendatang tiba, penduduk Kei telah memiliki penduduk asli, yang keadaannya kurang lebih sama dengan berbagai suku “terasing” seperti yang terdapat di pelbagai daerah di Maluku. Di antara kekaburan penjejakan kembali daerah asal penduduk Kei, hanyalah penduduk Banda Elat dan Banda Eli (Kei Besar) yang mempunyai garis sejarah yang cukup terang, sebagai berikut: Pada tanggal 27 Ferbuari 1621 tibalah Jan Pieter Zoon Coen di Banda dengan 12 buah kapal. Penduduk. Penduduk Banda langsung dihukum karena dituduh telah menjual hasil pala kepada pedagang lain yang bukan berkebangsaan Belanda. Dengan susah payah, akhirnya sebagian dari penduduk Banda sempat meloloskan dirinya dan antara lain ada yang melarikan diri ke Kei Besar. Bukti yang kuat tentang pengasalusulan penduduk Banda elat dan Banda Eli tersebut adalah kenyataan bahwa mereka masih tetap mempertahankan bahasa dari pulau Banda, dengan kerajinan tangan dari tanah liat yang diwariskan dari nenek moyang mereka di pulau Banda. Menurut Soendhoro, pada abad ke-14 kerajaan Majapahit meluaskan kekuasaannya di bawah pimpinan Gajah Mada, sehingga Maluku (termasuk Kei) terhitung pula sebagai wilayah kerajaan Majapahit. Akan tetapi pada tahun 1478 kerajaan termasyur itu runtuh sama sekali ketika raja Kediri Giridrawardhana merebut kekuasaan. Pada waktu itulah kerajaan Majapahit menjadi kacau balau dan rakyatnya tercerai berai. Dalam konteks inilah Ph. Renyaan menulis bahwa kepindahan penduduk dari Bali ke Kei terjadi dalam abad ke-15 dan abad ke –16. Dalam arus transmigarasi tersebut terdapatlah keluarga Halaai yang bernama Kasdew dangan istrinya Dit Rangil. Mereka memasuki teluk Sorbay di pantai barat Kei kecil, dan akhirnya singgah di pantai kampung Letvuan. Atas persetujuan penduduk asli, mereka mendirikan satu kampung di suatu bukit yang tinggi, dan diberi nama Ohoivuur (yang berarti kampung diatas bukit). Terhadap penduduk asli mereka menyatakan dirinya sebagai wakil dewa yang datang dari pulau Dewata Sesudah beberapa waktu, Kasdew kembali lagi ke Bali dan pulang ke Kei dengan rombongan lainnya dengan membawa tiga puluh tombak dari Bali. Kehadiran “raja asing” ini, telah membawa suatu perubahan dalam kehidupan sosial, terutama dalam hukum adat pada waktu itu. Menurut legenda, hukum adat diperkenalkan dan disebarkan di Kei oleh dua kelompok pemimpin, (sebagian besar adalah ‘raja-raja asing’, sebagian kecil lainnya adalah para penguasa lokal). Kelahiran hukum adat atau yang disebut hukum Larwul Ngabal juga menjadi kerangka dasar tatanan sosial-politik yang masih tetap bertahan sampai hari ini. Masyarakat Kei sepakat bahwa hukum adat inilah yang menjadi dasar utama hubungan-hubungan dan tertib sosial di kepulauan Kei. Hukuman bagi mereka yang melanggar aturan-aturan ini umumnya berat sekali, mulai dari dipermalukan di depan umum, membayar denda adat dalam bentuk gong, emas, diasingkan, atau bahkan dibunuh dengan cara ditenggelamkan hidup-hidup. Hukum yang “baru” itu pada akhirnya diterima dan diakui dalam dua kelompok besar masyarakat Kei, yakni hukum Larwul untuk masyarakat Ursiuw dan hukum Ngabal untuk masyarakat Lorlim. Perpaduan antara dua hukum yang sama isinya tetapi berbeda materi pemaklumannya itu, terjadi dalam proses perluasaan kekuasaan Ursiuw dan Lorlim, serta meluasnya pengaruh hukum itu sendiri pada waktu pengangkatan raja-raja di seluruh Kei.